Adiwiyata berasal dari bahasa Sanskerta: Adi yang berarti besar, agung, atau ideal, dan Wiyata yang berarti tempat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, norma, dan etika. Jadi, sekolah Adiwiyata bukan hanya sekadar sekolah yang bersih, tapi juga tempat di mana nilai-nilai pelestarian alam ditanamkan ke dalam karakter setiap siswa dan guru

Kader Adiwiyata SMPN 1 Sangatta Utara Gandeng UPT Kebersihan Olah Sampah Jadi Kompos

SANGATTA, (Rabu, 28 Januari 2026) Dalam upaya nyata mewujudkan sekolah ramah lingkungan dan menekan volume sampah organik, Kader Adiwiyata SMPN 1 Sangatta Utara menggelar pelatihan pembuatan kompos pada hari ini. Kegiatan yang berlangsung di area musholla sekolah ini melibatkan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebersihan Kabupaten Kutai Timur sebagai mitra edukasi.
Istimewanya, pelatihan ini dibimbing langsung oleh Kepala UPT Kebersihan Kutai Timur, Bapak Anto. Beliau turun tangan memberikan instruksi teknis kepada para siswa dan guru mengenai cara mengolah sisa makanan dan sampah daun menjadi pupuk organik yang bermanfaat.
Belajar Langsung dari Ahlinya

Pelatihan diawali dengan pemaparan teori singkat mengenai pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya. Bapak Anto menekankan bahwa sampah organik jika tidak dikelola hanya akan menumpuk di TPA dan menghasilkan gas metana yang berbahaya bagi atmosfer.
"Kami ingin adik-adik di SMPN 1 Sangatta Utara tidak hanya melihat sampah sebagai kotoran, tapi sebagai bahan baku. Dengan teknik pengomposan yang benar, sampah ini akan kembali ke alam sebagai nutrisi tanaman," ujar Pak Anto di sela-sela praktik

Langkah-Langkah Pembuatan Kompos di Sekolah
Dalam praktik lapangan, para Kader Adiwiyata diajarkan metode pengomposan sederhana yang bisa diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan sekolah:
1. Pencacahan: Sampah organik berupa daun kering dan sisa sayuran dicacah menjadi bagian kecil agar lebih cepat terurai.
2. Pencampuran Aktivator: Menggunakan larutan bioaktivator (seperti EM4) untuk mempercepat proses fermentasi.
3. Pengaturan Kelembapan: Menjaga tumpukan sampah agar tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering.
4. Pembalikan Rutin: Memastikan sirkulasi oksigen terjaga di dalam komposter.
Target Pengurangan Sampah
Pihak SMPN 1 Sangatta Utara menyambut baik kolaborasi ini. Dengan adanya pelatihan ini, sekolah menargetkan pengurangan sampah organik yang dibuang ke luar sekolah hingga 60-70%. Hasil kompos yang diproduksi nantinya akan digunakan kembali untuk memupuk berbagai tanaman di taman sekolah, mendukung ekosistem hijau yang menjadi syarat utama sekolah Adiwiyata.
Melalui sinergi antara institusi pendidikan dan instansi pemerintah seperti UPT Kebersihan, diharapkan kesadaran lingkungan para siswa tumbuh menjadi gaya hidup yang permanen, sekaligus menjadikan SMPN 1 Sangatta Utara sebagai pelopor pengolahan sampah mandiri di wilayah Kutai Timur.
Penulis: Elly Handayani, M.Pd
Lokasi: Sangatta, Kutai Timur